Ticker

6/recent/ticker-posts

Kesalahpahaman Antara Mahasiswa Asal Bima dengan Warga Karang Pule Berakhir Damai

Mediasi antara Mahasiswa Bima dengan warga Karang Pule di Mapolsek Ampenan, Sabtu (2/10/2021) malam dihadiri  Kasat Reskrim Polresta Mataram AKP Kadek Adi Budi Astawa, S.IK.

MATARAM, Warta Hukrim - Pertikaian antara Mahasiswa asal Bima dengan warga Lingkungan Karang Pule, Kecamatan Ampenan, Kota Mataram yang terjadi, Sabtu (2/10/2021) berhasil dimediasi dan didamaikan jajaran Polresta Mataram.

Cekcok yang berujung bentrok dan saling kejar-kejaran antara mahasiswa asal Bima dengan sejumlah warga Lingkungan Karang Pule, Kecamatan Ampenan dipicu  kehilangan Laptop salah satu mahasiswa asal Bima yang ngekos di Karang Pule yang berbuntut cekcok antara mahasiswa dengan penjaga kos yang merupakan warga Karang Pule.

Untuk menangani persoalan itu agar tidak merembet, Sat Reskrim Polresta Mataram bersama anggota Reskrim Polsek Ampenan langsung  bertindak cepat dan tepat dalam mengatasi permasalahan yang terjadi di wilayah hukumnya.

Tindakan tepat Kasat Reskrim Polresta Mataram itu dibuktikan dengan berhasil menyatukan atau mendamaikan dua kelompok yang sedang bertikai.

Dalam giat jumpa Pers Kasat Reskrim Polresta Mataram AKP Kadek Adi Budi Astawa SIK usai kejadian dan memediasi dua kelompok yang bertikai  di Polsek Ampenan sekitar pukul 20:40 Wita, Sabtu malam menjelaskan bahwa peristiwa yang terjadi antara kedua kelompok (Mahasiswa asal Bima dengan penjaga kos/warga Karang Pule) tersebut murni karena salah paham (mis komunikasi).

Peristiwa tersebut menurut Kadek Adi, bermula dari salah seorang mahasiswa asal Bima yang kebetulan ngekos di Wilayah Karang Pule kehilangan sebuah Laptop di kamarnya, namun karena keterangan atau informasi yang diterimanya tidak terlalu jelas sehingga mahasiswa ini mengeluarkan kata-kata yang mungkin tidak terkontrol sehingga membuat orang lain yang berada di sekitar itu tersinggung khususnya penjaga kos.

"Bener pemicunya laptop yang hilang, sehingga membuat si penjaga kos-kosan yang merupakan warga Karang Pule tersebut tersinggung, sehingga sempet terjadi bentrok antara kelompok mahasiswa Bima dengan warga sekitar," ungkap Kadek. 

Kadek menambahkan, akibat peristiwa itu memang sempat terjadi kejar kejaran antara kedua kelompok yang mengakibatkan salah seorang terkena lemparan batu dan mengakibatkan luka kecil di bagian kepala, sehingga sempat memanas. Namun kejadian tersebut dapat diamankan oleh Anggota Piket yang memang datang ke TKP dalam waktu yang tepat sehingga ketegangan tidak berlangsung lama.

"Kami segera ke TKP saat menerima informasi, dan tindakan yang kami lakukan mengajak ke dua kelompok yang bertikai untuk melakukan mediasi di Polsek Ampenan dengan tujuan yang kami harapkan bisa berdamai," tutur Kadek. 

Dengan disaksikan Kepala Lingkungan dari TKP, Kapolsek Ampenan, Kasat Reskrim Polresta, Bhabinkamtibmas Karang Pule serta pihak yang kehilangan Laptop dan penjaga kos yang dicurigai, melakukan mediasi yang pada ahirnya keduanya berdamai dengan menandatangani Surat Perdamaian antara keduanya.

"Mereka sepakat untuk berdamai, dan tidak lagi mempersoalkan peristiwa yang tadi terjadi," pungkas Kadek.

Terhadap mediasi dan kesepakatan damai yang dibuat oleh kedua belah pihak, Kadek berharap agar masayarakat tidak lagi mengonsumsi berita-berita hoax yang sengaja disebar oleh pihak-pihak tertentu untuk memprovokasi keadaan khususnyan warga pulau seberang Bima dan warga Karang Pule sendiri.

Sementara itu di tempat yang sama kedua pihak yang bertikai baik mahasiswa asal Bima yang merasa kehilangan Laptop maupun penjaga kos warga Karang Pule, sama-sama menyampaikan harapan kepada seluruh teman ataupun masyarakat agar apabila ada berita-brita tentang peristiwa ini yang akan menimbulkan ketegangan agar jagan dipercaya karena itu sudah pasti berita bohong atau hoax. (WH-Red)